Manusia diciptakan oleh Allah SWT selalu berbeda satu dengan lainnya. Dua bayi kembar yang menurut manusia sama persis ternyata masih ada perbedaannya. Itulah kemahabesaran Allah yang patut kita jadikan pedoman medan fenomena berpikir ilmiah. Keberdaan tersebut sudah selayaknya guru memahaminya, berempati pada keberdaan kondisi anak didik. Menurut Jung guru dan orang tua perlu memahami dan mampu mengembangkan anak didik sesuai dengan kondisi alamiyah anak didik, inilah yang disebut dengan uncoditional positif regard.
KTSP sudah menyaratkan guru membelajarkan anak didik dengan melihat kompetensi dasar materi. Bila ingin mengembangkan berilah mereka pengayaan yang sesuai dengan kemampuannya. Kompetensi dasar disusun dengan melihat standar kemampuan berpikir anak sesuai tingkat satuan pendidikan rata-rata di seluruh Indonesia. Menambahkan boleh saja, tetapi perlu ada batasanya jangan melebih kompetensi dasar di atas tingkat satuan pendidikan anak. Misalnya anak SD lebih arif dan bijaksana diberi materi pengayaan setingkat SD bukan SMP.
Uncoditional positif regard agak sulit dilasanakan guru di lapangan (saat pembelajaran), namun sebagai guru patut berempati (memahami) pada anak didiknya. Untuk bisa memiliki kepribadian uncoditional positif regard , berikut ini beberapa langkah sederhana yang perlu dilakukan guru:
1. Biasanyakanlah guru mengaasai materi yang diajarkan tanpa ada keragu-raguan. Guru akan mudah mengatur, merencanakan, memilih model, strategi pembelajaran dan mengelola kelas bila beban menguasai materi sudah bebas. Banyak guru emosinya terpancing oleh pertanyaan siswa yang tidak dipahami untuk menutupi kekuranganya atau memberikan tugas tidak terstruktur atau mengeluarkan siswa dari kelas gara-gara tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau tidur/tidak memperhatikan pelajaran. Aneh kan, kesalahan sendiri ditimpakan pada orang lain.
2. Rencanakanlah pembelajaran seefektif mungkin dengan melihat kondisi anak didik. Guru dikenang anak didik akan kelihaiannya mengelola dan melaksanakan pembelajaran. Kita tidak usah memungkiri bahwa selama anak didik masih banyak yang mendapatkan ilmu melalui pembelajaran di kelas/di sekolah. Kompetensi paedagogik disini benar-benar dituntut legitimasinya oleh pendidikan dan layak disebut sebagai profesi pendidik. Layak tidaknya guru mengajar di kelas sangat menentukan keberhasilan pembelajaran. Bila perlu guru-guru di sekolah pada saat liburan tahun ajaran atau awal tahun pelajaran dibudayakan bermusyawarah menyusun dan merencanakan pembelajaran sebaik-baiknya. Saat mulai mengajar sudah siap melaksanakan skenario pembelajaran. Team teaching perlu dikembangkan seoptimal mungkin baik di perencanaan, pelaksanaan, maupun refleksi . Kesempurnaan skenario menyebabkan guru lebih mengutamakan keterlangsungan dan kualiatas pelaksanaan pembelajaran, sehingga anak didik akan terkondisikan sebaik-baiknya.
3. Biasakanlah untuk mencatat keterlaksanaan dan kekurangan yang muncul saat pelaksanaan pembelajaran di buku harian guru. Jurnal guru yang selama ini diisi guru bisa dikembangkan sendiri menjadi buku harian guru. Catatan-catan itu akan mengurangi rasa ego guru di kelas, sebab fokus yang dicatat berkenanaan keterlaksaan dan kekurangan pelaksanaan pembelajaran baik dari segi guru maupun anak didik. Catatan itu selanjutnya dipergunakan guru bersama team teachingnya melakukan refleksi .
4. Berpikirlah secara sederhana, bahwa anak didik bukan robot yang selalu mengikuti perintah atau program kita. Apa yang kita ajarkan akan diterima berbeda oleh setiap anak didik sesuai dengan kemampuannya. Contoh yang saya alami, saat mengajar di SMA materi biologi tentang reproduksi dengan segala resiko kekebasan seks yang tidak bertanggung jawab baru dipahami oleh anak didik saat akan mau menikah. Tugas guru sebagai pengajar sampaikan saja ilmunya tidak perlu memaksakan kehendak.
5. Sajikan materi sebaik-baiknya, semudah-mudahnya dan berilah caranya belajar biologi misalnya dengan baik. Anak didik akan senang dengan mata pelajaran bila guru mampu memberikan dan menunjukkan bahwa materi ini mudah dipelajari. Beginilah cara belajarnya dan senangkan saat belajar. Anak malas belajar, tidak mengerjakan PR/tugas, mengganggu pelajaran rata-rata disebabkan oleh tidak senang, tidak mengerti dan tidak tahu cara belajarnya. Bila guru mampu melaksanakan ini, saya menjamin tidak akan ada anak didiknya yang bosan pada pelajarannya. Ini akan memotivasi anak didik belajar tanpa paksaan.
Semoga kajian tulisan ini akan bermanfaat bagi guru, dan alangkah baiknya materi ini menjadi bagian dari pendidikan dan latihan guru-guru. Semoga bermanfaat bagi pembentukan generasi penerus yang berkualitas.
Sabtu, 13 September 2008
Guru perlu berempati
Diposting oleh BELAJAR SAINS di 15.56
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar